قَصيْدَةُ الْبُرْدة لِلْبُوْصِيْرِيِّ
-
الفصل الأول: في الغزل وشكوى الغرام
-
مَوْلَايَ صَلِّ وَسَلِّمْ دَآئِــمًا أَبَـدًا ۞ عَلَى حَبِيْبِـكَ خَيْــرِ الْخَلْقِ كُلِّهِمِ
Ya Tuhanku, limpahkanlah selalu rahmat takzim dan keselamatan atas kekasih-Mu yang terbaik di antara seluruh makhluk
أَمِنْ تَذَكُّــرِ جِــــيْرَانٍ بِذِيْ سَــــلَمِ ۞ مَزَجْتَ دَمْعًا جَرَى مِنْ مُقْلَةٍ بِـــدَمِ
Apakah karena mengingat para kekasih di Dzi Salam sana, Engkau deraikan air mata dengan darah duka?
أَمْ هَبَّتِ الرِّيْحُ مِنْ تِلْقَـاءِ كَاظِمَـةٍ ۞ وَأَوْمَضَ الْبَرْقُ فِيْ الْظَلْمَآءِ مِنْ إِضَـمِ
Ataukah karena embusan angin terarah lurus berjumpa di Kadhimah (Madinah), atau sebab kilatan cahaya gulita malam dari kedalaman Lembah Idlam?
فَمَا لِعَيْنَيْكَ إِنْ قُلْتَ اكْفُفَا هَمَتَا ۞ وَمَا لِقَلْبِكَ إِنْ قُلْتَ اسْتَفِقْ يَهِـــمِ
Lalu mengapa kedua air matamu tetap meneteskan air mata? Padahal engkau telah berusaha membendungnya. Apa yang terjadi dengan hatimu? Padahal engkau telah berusaha menghiburnya.
أَيَحْسَبُ الصَّبُّ أَنَّ الْحُبَّ مُنْكَتِمٌ ۞ مَا بَيْنَ مُنْسَجِمٍ مِنْهُ وَمُضْطَـــرِمِ
Apakah diri yang dirundung nestapa karena cinta mengira bahwa api cinta dapat disembunyikan di antara derai air mata dan hati yang terbakar asmara?
لَوْلَا الْهَوَى لَمْ تُرِقْ دَمْعًــا عَلَى طَلَلٍ ۞ وَلَا أَرِقْتَ لِذِكْرِ الْبَـــانِ وَالْعَلَـــمِ
Andaikan bukan karena cinta, tentu kau tak akan meratapi puing-puing kenangan masa lalu. Kau juga tak akan terjaga mengenang pohon al-Ban dan Bukit Alam.
فَكَيْفَ تُنْكِرُ حُبًّا بَعْدَ مَا شَهِدَتْ ۞ بِهِ عَلَيْكَ عُدُوْلُ الدَّمْعِ وَالسَّـــقَمِ
Bagaimana kaudapat mengingkari cinta, sedangkan derai air mata dan derita telah menjadi saksi tak terbantahkan atas rindumu?
وَأَثْبَتَ الْوَجْــدُ خَطَّيْ عَبْرَةٍ وَّضَـنًى ۞ مِثْلَ الْبَهَارِ عَلَى خَدَّيْكَ وَالْعَنَـــمِ
Duka nestapa meninggalkan garis di kedua pipi, menandai bekas isak tangis dan laramu, bagai bunga bahar dan dahan anam.
نَعَــمْ سَرَى طَيْفُ مَنْ أَهْوَى فَأَرَّقَنِيْ ۞ وَالْحُبُّ يَعْتَرِضُ اللَّذَّاتِ بِالْأَلَــمِ
Memang, bayangan orang yang kucinta selalu hadir dan membuatku terjaga. Cinta menghalangi segala kesenangan dengan derita
يَا لَائِمِيْ فِي الْهَوَى الْعُذْرِيِّ مَعْذِرَةً ۞ مِنِّيْ إِلَيْكَ وَلَوْ أَنْصَفْتَ لَـــمْ تَلُـــمِ
Wahai pencaci derita cinta, kusampaikan maaf padamu. Aku yakin andai kaurasakan derita cinta ini, tak mungkin engkau mencaci maki.
عَدَتْـــكَ حَـــــالِيَ لَاسِـــــرِّيْ بِمُسْتَـــتِرٍ ۞ عَنِ الْوُشَاةِ وَلَا دَائِيْ بِمُنْحَسِــمِ
Kini kautahu keadaanku, tiada lagi rahasiaku yang tersimpan darimu. Derita cintaku tiada kunjung sirna.
مَحَّضْتَنِي النُّصْحَ لَكِنْ لَّسْتُ أَسْمَعُهُ ۞ إِنَّ الْمُحِبَّ عَنِ الْعُـــذَّالِ فِيْ صَمَـــمِ
Begitu tulus nasihatmu, tapi aku tak mampu mendengar semua itu. Karena sesungguhnya orang yang dimabuk cinta tuli dan tak menggubris cacian pencela.
إِنِّيْ اتَّهَـــمْتُ نَصِيْحَ الشَّيْبِ فِي عَذَلٍ ۞ وَالشَّيْبُ أَبْعَدُ فِيْ نُصْـــحٍ عَنِ التُّهَمِ
Aku curiga ubanku pun turut mencelaku. Padahal ubanku pastilah tulus memperingatkanku.
الفصل الثاني: في التحذير من هوى النفس
-
فَإِنَّ أَمَّـــارَتِيْ بِالسُّـوْءِ مَــــا اتَّعَظَتْ ۞ مِنْ جَهْلِهَا بِنَذِيْرِ الشَّيْبِ وَالْهَرَمِ
Sungguh, karena bodohnya, nafsu amarahku tak menghiraukan peringatan uban di kepala dan usia senja.
وَلَا أَعَدَّتْ مِنَ الفِعْلِ الْجَمِيْلِ قِرَى ۞ ضَيْفٍ أَلَمَّ بِرَأْسِيْ غَيْرَ مُحْـــتَشِمِ
Nafsu amarahku enggan berbenah dengan mengerjakan amal baik yang bernilai, untuk menyambut kedatangan tamu yang pasti, tamu yang singgah di kepala nan tiada malu lagi.
لَوْ كُنْتُ أَعْلَــــمُ أَنِّي مَــا أُوَقِّــــــرُهُ ۞ كَتَمْتُ سِرًّا بَدَا لِيْ مَنْهُ بِالْكَـــتَمِ
Jika tahu aku belum mampu menghormat tamu, lebih baik kusembunyikan diriku dengan cara menyemir uban di kepalaku.
مَنْ لِي بِرَدِّ جِمَـــاحٍ مِنْ غَوَايَتِهَـــا ۞ كَمَا يُرَدُّ جِمَـــاحُ الْخَيْلِ بِاللُّجُمِ
Siapa gerangan sanggup mengembalikan nafsuku dari kesasar, sebagaimana tali kekakang yang mengendalikan kuda liar.
فَلَا تَرُمْ بِالْمَعَاصِيْ كَسْرَ شَهْوَتِهَا ۞ إِنَّ الطَّعَـــامَ يُقَوِّيْ شَهْوَةَ النَّهِمِ
Jangan harap kaudapat mematahkan nafsu dengan maksiat. Sungguh, makanan justru membuat syahwat si rakus makin kuat.
وَالنَّفْسُ كَالطِّفْلِ إِنْ تُهْمِلْهُ شَبَّ عَلَى ۞ حُبِّ الرَّضَاعِ وَإِنْ تَفْطِمْهُ يَنْفَطِمِ
Nafsu bagaikan bayi. Bila kaubiarkan, ia tumbuh besar dengan tetap suka menyusu. Namun bila engkau sapih, maka bayi akan berhenti sendiri.
فَاصْرِفْ هَوَاهَا وَحَاذِرْ أَنْ تُوَلِّيَهُ ۞ إِنَّ الْهَوَى مَا تَوَلَّى يُصِمْ أَوْ يَصِمِ
Maka palingkanlah nafsumu, takutlah jangan sampai ia menguasaimu. Sesungguhnya nafsu, jikalau berkuasa maka akan membunuhmu dan membuatmu tercela.
وَرَاعِهَا وَهْيَ فِيْ الأَعْمَالِ سَـــآئِمَةٌ ۞ وَإِنْ هِيَ اسْتَحْلَتِ الْمَرْعَى فَلَا تُسِمِ
Gembalakanlah nafsu. Karena dalam hal amal, nafsu bagaikan hewan ternak. Jika nafsu merasa nyaman dalam kebaikan, maka tetap jaga dan jangan engkau lengah.
كَـمْ حَسَّنَتْ لَذَّةً لِلْمَــــــرْءِ قَـــــاتِلَةً ۞ مِنْ حَيْثُ لَمْ يَدْرِ أَنَّ السَُمَّ فِي الدَّسَمِ
Betapa banyak kelezatan justru membawa kematian. Karena tanpa orang sadari, ada racun tersembunyi dalam kelezatan makanan.
وَاخْشَ الدَّسَائِسَ مِنْ جُوْعٍ وَّمِنْ شِبَعٍ ۞ فَرُبَّ مَخْمَصَةٍ شَرٌّ مِنَ التُّخَمِ
Takutlah terhadap tipu dayanya lapar dan kenyang. Sebab sering terjadi rasa lapar berdampak lebih buruk ketimbang rasa kenyang.
وَاسْتَفْرِغِ الدَّمْعَ مِنْ عَيْنٍ قَدِ امْتَــــلَأَتْ ۞ مِنَ الْمَحَـــارِمِ وَالْزَمْ حِمْيَـــةَ النَّدَمِ
Tumpahkan tangismu dari mata yang penuh noda dosa. Peliharalah rasa sesal dan kecewa karena dosa.
وَخَالِفِ النَّفْسَ وَالشَّيْطَانَ وَاعْصِهِمَـا ۞ وَإِنْ هُمَا مَحَّضَاكَ النُّصْحَ فَاتَّهِمِ
Lawanlah hawa nafsu dan setan durhaka. Berhati-hatilah dari keduanya. Jika mereka tulus menasihati, engkau patut curiga.
وَلَا تُطِعْ مِنْهُمَا خَصْمًــــا وَلَاحَكَمًــــا ۞ فَأَنْتَ تَعْرِفُ كَيْدَ الخَصْمِ وَالْحَكَمِ
Jangan patuhi keduanya, baik selaku musuh ataupun selaku hakim. Sebab engkau sudah tahu dengan nyata bagaimana tipu daya mereka ketika menjadi musuh atau membuat keputusan.
أَسْتَغْفِـــــرُ اللهَ مِنْ قَوْلٍ بِــلَا عَمَـــــلٍ ۞ لَقَدْ نَسَبْتُ بِهِ نَسْلًا لِذِيْ عُقُمِ
Aku memohon ampun kepada Allah dari ucapan tanpa pengamalan. Sungguh, aku laksana menisbahkan anak kepada orang yang mandul.
أَمَرْتُكَ الْخَــــيْرَ لٰكِنْ مَا ائْتَمَــرْتُ بِهِ ۞ وَمَا اسْتَقَمْتُ فَمَا قَوْلِيْ لَكَ اسْتَقِمِ
Aku menyuruhmu berbuat baik, tetapi aku sendiri enggan mengerjakan. Apalah artinya ucapanku agar engkau berlaku benar, sedangkan diriku sendiri lalai?
وَلَا تَزَوَّدْتُ قَبْــــلَ الْمَوْتِ نَــــــافِـلَةً ۞ ولَمْ أُصَلِّ سِوَى فَرْضٍ وَلَمْ أَصُمِ
Diriku tak punya bekal ibadah sunnah untuk menyambut maut. Aku tidak shalat dan puasa kecuali hanya yang wajib saja.
الفصل الثالث: في مدح سيد المرسلين ﷺ
-
ظَلَمْتُ سُنَّةَ مَنْ أَحْيَا الظَّلَامَ إِلَى ۞ أَنِ اشْتَكَتْ قَدَمَاهُ الضُّرَّ مِنْ وَرَمِ
Aku zalim karena meninggalkan kebiasaan Nabi yang selalu menghidupkan malam dengan ibadah, hingga kedua tapak kaki mengaduh karena bengkak kesakitan.
وَشَدَّ مِنْ سَغَبٍ أَحْشَــاءَهُ وَطَوَى ۞ تَحْتَ الْحِجَارَةِ كَشْحًا مُتْرَفَ الْأَدَمِ
Nabi juga mengikat perutnya karena lapar yang sangat, dan meletakkan batu di bawah kulit perutnya yang halus dan mulia.
وَرَاوَدَتْهُ الْجِبَــــالُ الشُّمُّ مِنْ ذَهَبٍ ۞ عَنْ نَفْسِهِ فَأَرَاهَا أَيَّمَا شَمَمِ
Pernah beliau ditawari gunung emas menjulang, Nabi menolak.
وَأَكَّدَتْ زُهْـــدَهُ فِيْهَــــا ضَرُوْرَتُـــهُ ۞ إِنَّ الضَّرُوْرَةَ لَا تَعْدُوْ عَلَى الْعِصَمِ
Kezuhudan Nabi kian tampak ketika dalam situasi darurat. Padahal, kondisi itu tidak mengurangi kemaksuman beliau.
فَكَيْفَ تَدْعُوْا إِلَى الدُّنْيَا ضَرُوْرَةُ مَنْ ۞ لَوْلَاهُ لَمْ تُخْرَجِ الدُّنْيَا مِنَ الْعَدَمِ
Bagaimana mungkin kondisi itu mendorong Nabi tertarik kepada kemilau dunia, sedangkan dunia saja tak akan pernah ada tanpa Nabi Muhammad ﷺ.
مُحَمَّــدٌ سَيِّدُ الْكَوْنَيْنِ وَالثَّـــقَلَيْـــ ۞ ــنِ وَالْفَرِيقَيْنِ مِنْ عُرْبٍ وَمِنْ عَجَمِ
Dialah Nabi Muhammad ﷺ, sang pemimpin baik di dunia dan akhirat. Juga pemimpin jin dan manusia, baik bangsa Arab ataupun non-Arab.
نَبِيُّنَا الْآمِرُ النَّــــاهِيْ فَلَا أَحَــــدٌ ۞ أَبَرَّ فِيْ قَوْلِ لَا مِنْهُ وَلَا نَعَمِ
Yaitu nabi kita Rasulullah Muhammad ﷺ, sang penganjur kebaikan dan pencegah kemungkaran. Tak seorang pun lebih baik daripada Rasulullah ﷺ, dalam berkata "ya" dan "jangan".
هُوَ الْحَبِيْبُ الَّذِيْ تُرْجَى شَفَاعَتُهُ ۞ لِكُلّ هَوْلٍ مِنَ الْأَهْوَالِ مُقْتَحِمِ
Beliau sang kekasih yang diharapkan pertolongannya oleh tiap manusia ketika berbagai hal-hal mengerikan datang mencekam (di hari kiamat).
دَعَا إِلَى اللهِ فَالْمُسْتَمْسِكُونَ بِهِ ۞ مُسْتَمْسِكُوْنَ بِحَبْلٍ غَيْرِ مُنْفَصِمِ
Beliau mengajak menuju keridhaan Allah ta’ala. Siapa saja yang berpegang teguh padanya, ia seperti berpegang pada tali tali yang pasti takkan putus.
فَاقَ النَّبِيِّيْنَ فِي خَلْقٍ وَّفِيْ خُــلُقٍ ۞ وَلَمْ يُدَانُـوْهُ فِيْ عِلْمٍ وَلَا كَرَمِ
Nabi Muhammad unggul di atas para nabi, secara fisik maupun budi pekerti. Mereka juga takkan sanggup menyamai Rasulullah ﷺ, baik dalam ilmu atau kemuliaan.
وَكُلُّـهُــمْ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ مُلْتَمِسٌ ۞ غَرْفًا مِنَ الْبَحْرِ أَوْ رَشْفًا مِنَ الدِّيَمِ
Masing-masing laksana mengambil seciduk air dari samudera ilmu dan setetes hujan kemuliaan Nabi.
وَوَاقِفُوْنَ لَدَيْـــهِ عِنْدَ حَـــدِّهِمُ ۞ مِنْ نُقْطَةِ الْعِلْمِ أَوْ مِنْ شَكْلَةِ الْحِكَمِ
Para nabi berdiri di sisi Rasulullah dalam batas tingkatan mereka, laksana setitik ilmu dan secoretan belantara hikmah Nabi.
فَهْوَ الَّذِيْ تَمَّ مَعْنَاهُ وَصُـوْرَتُهُ ۞ ثُمَّ اصْطَفَاهُ حَبِيْبًا بَــارِئُ النَّسَمِ
Belaiu sempurna jiwa dan raga, yang kemudian terpilih sebagai kekasih Allah ta’ala, Sang Pencipta
مُنَزَّهٌ عَنْ شَرِيْكٍ فِيْ مَحَـــاسِنِهِ ۞ فَجَوْهَرُ الْحُسْنِ فِيْهِ غَيْرُ مُنْقَسِمِ
Beliau tak ada duanya dalam segala kebaikan. Inti kebaikannya tak mungkin terbagi.
دَعْ مَا ادَّعَتْهُ النَّصَارَى فِي نَبِيِّهِمُ ۞ وَاحْكُمْ بِمَا شِئْتَ مَدْحًا فِيْهِ وَاحْتَكِمِ
Tinggalkan anggapan kaum Nasrani tenteng nabi mereka. Sampaikan untaian pujian semaumu kepada nabi dengan selayaknya.
وَانْسُبْ إِلَى ذَاتِهِ مَا شِئْتَ مِنْ شَرَفٍ ۞ وَانْسُبْ إِلَى قَدْرِهِ مَا شِئْتَ مِنْ عِظَمِ
Lekatkanlah segala kemuliaan pada diri Nabi sesukamu. Junjunglah sehormat-hormatnya sekehendakmu.
فَإِنَّ فَضْلَ رَسُـوْلِ اللهِ لَيْسَ لَهُ ۞ حَدٌّ فَيُعْرِبَ عَنْهُ نَـــاطِقٌ بِفَـــمِ
Karena keutamaan Rasulallah ﷺ tak berbatas, yang sanggup diungkapkan oleh kata-kata.
لَوْ نَاسَبَتْ قَدْرَهُ اٰيَـــاتُهُ عِظَمًــا ۞ أَحْيَا اسْمُهُ حِيْنَ يُدْعَىٰ دَارِسَ الرِّمَمِ
Andai saja keagungan mukjizat Rasulullah sama dengan ketinggian derajatnya, maka dengan disebut namanya dapat hidupkan orang yang telah hancur tulangnya.
لَمْ يَمْتَحِنَّا بِمَا تَعْيَا الْعُقُـوْلُ بِـــهِ ۞ حِرْصًا عَلَيْنَا فَلَمْ نَرْتَـبْ وَلَمْ نَهِمِ
Beliau tidak membebani kita dengan perkara-perkara yang melelahkan akal untuk memahaminya, karena kasih sayangnya kepada kita; maka kita pun tidak menjadi ragu dan tidak pula bingung.
أَعْيَا الوَرَى فَهْمُ مَعْنَاهُ فَلَيْسَ يُرَى ۞ فِي الْقُرْبِ وَالْبُعْدِ فِيْـــهِ غَيْرُ مُنْفَحِمِ
Seluruh makhluk tak kuasa menjangkau hakikat dirinya. Yang dekat maupun yang jauh darinya, sama-sama kelu membisu di hadapan kemuliaannya.
كَالشَّمْسِ تَظْهَرُ لِلْعَيْنَيْنِ مِنْ بُعُدٍ ۞ صَغِيْرةً وَتُكِلُّ الطَّرْفَ مِنْ أَمَمِ
Laksana matahari; dari kejauhan tampak kecil di pandangan mata, namun cahayanya membuat mata letih bila terus menatapnya.
وَكَيْفَ يُدْرِكُ فِي الدُّنْيَا حَقِيقَتَـــهُ ۞ قَوْمٌ نِيَامٌ تَسَلَّوْا عَنْهُ بِالْحُلُمِ
Bagaimana mungkin manusia di dunia mampu memahami hakikat dirinya, sementara mereka laksana orang-orang yang tertidur dan terlena oleh mimpi-mimpi?
فَمَبْــــلَغُ الْعِـــــلْمِ فِيْـــهِ أَنَّــــهُ بَشَرٌ ۞ وَأَنَّهُ خَيْرُ خَلْقِ اللهِ كُلِّهِمِ
Puncak pengetahuan manusia tentang dirinya hanyalah bahwa ia seorang manusia, namun sekaligus sebaik-baik seluruh ciptaan Allah.
وَكُلُّ اٰيٍ أَتَى الرُّسْلُ الْكِرَامُ بِهَا ۞ فَإِنَّمَا اتَّصَلَتْ مِنْ نُـوْرِهِ بِهِمِ
Setiap mukjizat yang dibawa para rasul mulia, sejatinya hanyalah pancaran yang tersambung dari cahaya diri Nabi kepada mereka.
فَإِنَّهُ شَمْسُ فَضْلٍ هُمْ كَوَاكِبُـهَا ۞ يُظْهِرْنَ أَنْوَارَهَا لِلنَّـاسِ فِيْ الظُّلَمِ
Sungguh keutamaan Nabi Muhammad laksana matahari, sedangkan para nabi bagaikan bintang-bintang yang memantulkan sinar sang surya di kegelapan kepada seluruh manusia.
أَكْرِمْ بِخَـــــلْقِ نَبِيٍّ زَانَـــهُ خُــلُقٌ ۞ بِالْحُسْنِ مُشْتَمِلٍ بِالْبِشْرِ مُتَّسِمِ
Betapa mulia sosok seorang Nabi yang keindahan rupa dirinya dihiasi pula oleh keluhuran akhlak; sempurna dalam keelokan, penuh senyum dan keramahan.
كَالزَّهْرِ فِيْ تَرَفٍ وَالبَدْرِ فِي شَرَفٍ ۞ وَالبَحْرِ فِيْ كَرَمٍ وَالدَّهْرِ فِي هِمَمِ
Keanggunannya laksana bunga, kemuliaannya bagaikan purnama. Kedermawanannya laksana samudera, cita-citanya bagai perjalanan masa.
كَأَنَّــــهُ وَهْوَ فَـــــــرْدٌ مِنْ جَــــلَالَتِـــهِ ۞ فِي عَسْكَرٍ حِيْنَ تَلْقَــاهُ وَفِيْ حَشَمِ
Seakan-akan, meski ia seorang diri, wibawanya menjelma laksana satu pasukan besar saat engkau berjumpa dengannya, lengkap dengan para pengiring dan pengawal.
كَأَنَّمَا اللُّؤْلُؤُ الْمَكْنُـوْنُ فِيْ صَدَفٍ ۞ مِنْ مَّعْدِنَيْ مَنْطِقٍ مِنْهُ وَمُبْتَسَمِ
Seolah mutiara yang tersimpan rapat di dalam cangkangnya; demikianlah tutur katanya dan senyumnya yang keluar dari dirinya.
لَا طِيْبَ يَعْدِلُ تُرْبًا ضَمَّ أَعْظُمَــهُ ۞ طُوبَ لِمُنْتَشِقٍ مِنْهُ وَمُلْتَثِمِ
Tiada wewangian yang mampu menandingi tanah yang memeluk jasadnya. Beruntunglah siapa yang menghirup aromanya dan mengecupnya penuh cinta.
الفصل الرابع: في مولده
-
أَبَانَ مَوْلِدُهُ عَنْ طِيْبِ عُنْصُرِهِ ۞ يَا طِيْبَ مُفْتَتَحٍ مِنْهُ وَمُخْتَــــتَمِ
Kelahiran sang nabi menampakkan kesucian diri. Alangkah indah permulaannya, juga indah penghabisannya
يَوْمٌ تَفَرَّسَ فِيْـــهِ الفُرْسُ أَنَّهُـــمُو ۞ قَدْ أُنْذِرُوا بِحُلُوْلِ الْبُؤْسِ وَالنِّقَمِ
Hari kelahiran Rasulullah saat ada firasat bangsa Persia, bahwa ada peringatan kepada mereka datangnya bencana dan siksa
وَبَاتَ إِيْوَانُ كِسْرَى وَهْوَ مُنْصَدِعٌ ۞ كَشَمْلِ أَصْحَابِ كِسْرَى غَيْرِ مُلْتَئِمِ
Saat menjelang malam tiba istana kisra hancur terbelah. Sebagaimana kumpulan sahabat kisra tiada menyatu terpecah belah
وَالنَّارُ خَامِدَةُ الْأَنْفَاسِ مِنْ أَسَفٍ ۞ عَلَيْهِ وَالنَّهْرُ سَاهِيْ العَيْنِ مِنْ سَدَمِ
Api sesembahan padam karena duka yang mencekam. Sungai Eufrat tak mengalir, muram karena susah yang amat dalam
وَسَآءَ سَاوَةَ أَنْ غَاضَتْ بُحَيْرَتُهَا ۞ وَرُدَّ وَارِدُهَا بِالْغَيْظِ حِيْنَ ظَمِيْ
Penduduk negeri sawah resah duka saat danaunya kering keronta. Pengambil air kembali dengan tangan hampa kecewa ketika terjerat rasa dahaga
كَأَنَّ بِالنَّارِ مَا بِالْمَـــآءِ مِنْ بَلَلٍ ۞ حُزْنًا وَبِالْمَآءِ مَا بِالنَّارِ مِنْ ضَرَمِ
Seakan akan pada api nan membara terdapat cairan air karena duka. Dan pada air nan sejuk segar api yang membakar
وَالْجِنُّ تَهْتِفُ وَالْأَنْوَارُ سَاطِعَةٌ ۞ وَالْحَقُّ يَظْهَرُ مِنْ مَّعْنًى وَمِنْ كَلِـــمِ
Para jin menjerit, suara cahaya membumbung ke angkasa. Kebenaran tampak nyata dari makna maupun kata
عَمُوْا وَصَمُّوا فَإِعْلَانُ الْبَشَائِرِ لَمْ ۞ تُسْمَعْ وَبَـــارِقَةُ الْإِنْذَارِ لَمْ تُشَمِ
Mereka buta dan tuli tak dengar hingga kabar gembira tiada didengar. Begitu juga kilatan peringatan sama sekali tak terhiraukan
مِنْ بَعْدِ مَا أَخْـــبَرَ الْأَقْوَامَ كَاهِنُهُـــمْ ۞ بِأَنَّ دِيْنَهُمُ الْمُعْوَجَّ لَمْ يَقُـــمِ
Para rahib mereka telah kabarkan berita. Bahwa agama mereka melenceng, dan tak kan bertahan lama
وَبَعْدَمَا عَايَنُوْا فِيْ الْأُفُقِ مِنْ شُهُبٍ ۞ مُنْقَضَّةٍ وَّفْقَ مَا فِيْ الْأَرْضِ مِنْ صَنَمِ
Setelah mereka menyaksikan bintang-bintang di ufuk berjatuhan. Bersamaan di bumi ada kejadian berhala-berhala runtuh bergelimpangan
حَتَّى غَدَا عَنْ طَرِيقِ الْوَحْيِ مُنْهَزِمٌ ۞ مِنَ الشَّيَاطِيْنِ يَقْفُو إِثْرَ مُنْهَزِمِ
Hingga lenyap syetan berlari terbirit-birit dari pintu langit jalan wahyu ilahi. Mereka lari mengikuti syetan nan berlari tak henti
كَأَنَّهُمْ هَرَبًــــا أَبْطَالُ أَبْرَهَـــةٍ ۞ أَوْ عَسْكَرٌ بِالْحَصَى مِنْ رَاحَتَيْهِ رُمِيْ
Mereka berlarian laksana lasykar Raja Abrahah. Atau bak pasukan yang dihujani kerikil oleh tangan Rasul
نَبْذًا بِهِ بَعْدَ تَسْبِيحٍ بِبَطْنِهِمَا ۞ نَبْذَ الْمُسَبِّحِ مِنْ أَحْشَآءِ مُلْتَقِمِ
Batu yang nabi lemparkan, setelah bertasbih dalam genggaman. Bak terlemparnya nabi yunus dari perut ikan paus
الفصل الخامس: في معجزاته ﷺ
-
جَـــآءَتْ لِدَعْوَتِهِ الْأَشْجَارُ سَـاجِدَةً ۞ تَمْشِيْ إِلَيْهِ عَلَى سَاقٍ بِلَا قَدَمِ
Pepohonan datang memenuhi panggilannya dengan sikap tunduk sopan. Berjalan menghadap kepadanya dengan batang tanpa telapak terciptakan
كَأَنَّ مَا سَطَرَتْ سَطْرًا لِمَا كَتَبَتْ ۞ فُرُوْعُهَا مِنْ بَدِيْعِ الْخَطِّ فِيْ اللَّقَمِ
Seakan-akan pepohonan itu tuliskan sebuah lukisan. Lukisan indah menawan ditulis dahan di tengah jalan
مِثْلَ الْغَمَــــامَةِ أَنَّى سَارَ سَـــآئِـــرَةٌ ۞ تَقِيْهِ حَرَّ وَطِيْسٍ لِّلْهَجِيْرِ حَمِي
Sebagaimana gumpalan awan ke mana saja nabi pergi, ia sebagai payung perlindungan dari sengatan panas mentari di siang hari
أَقْسَمْتُ بِالْقَمَــــرِ الْمُنْشَقِّ إِنَّ لَهُ ۞ مِنْ قَلْبِهِ نِسْبَةً مَبْرُوْرَةَ الْقَسَمِ
Aku bersumpah demi penguasa rembulan nan pecah. Sesungguhnya hati nabi nan terbelah bak bulan yang dibelah
وَمَا حَوَى الْغَـــارُ مِنْ خَيْرٍ وَّمِنْ كَرَمٍ ۞ وَكُلُّ طَرْفٍ مِنَ الكُفَّـــارِ عَنْهُ عَمِيْ
Dalam gua Tsur nabi bersembunyi Abu Bakar sahabat yang menyertai. Semua mata kafir jadi buta tak dapat melihat mereka berdua
فَالصِّدْقُ فِي الْغَارِ وَالصِّدِّيْقُ لَمْ يَرِمَـا ۞ وَهُمْ يَقُوْلُوْنَ مَا بِالْغَـــارِ مِنْ أَرِمِ
Nabi dan Abu Bakar As-Siddiq keduanya berada dalam gua. Mereka orang-orang kafir berkata tak seorang pun dalam gua
ظَنُّوْا الْحَمَامَ وَظَنُّوا الْعَنْكَبُوْتَ عَلَى ۞ خَيْرِ الْبَرِيّةِ لَمْ تَنْسُجْ وَلَمْ تَحُمِ
Mereka berprasangka merpati takkan berputar sekitar gua. Laba laba takkan bersarang di mulut gua jika sebaik-baik makhluk di dalamnya
وِقَــــايَةُ اللهِ أَغْنَتْ عَنْ مُضَـــاعَفَــةٍ ۞ مِنَ الدُّرُوْعِ وَعَنْ عَالٍ مِنَ الْأُطُمِ
Cukuplah perlindungan Allah, tiada butuh lagi. Pada baju berlapis besi dan benteng benteng nan tinggi
مَا ضَامَنِي الدَّهْرُ يَوْمًا وَّاسْتَجَرْتُ بِهِ ۞ إِلَّا وَنِلْتُ جِوَارًا مِنْهُ لَمْ يُضَـــمِ
Tiada satu pun menyakiti diriku, lalu kumohon bantuan Nabi, niscaya kudapat pertolongannya tanpa sedikit pun disakiti
وَلَا الْتَمَسْتُ غِــنَى الدَّارَيْنِ مِنْ يَدِهِ ۞ إِلَّا اسْتلَمْتُ النَّدَى مِنْ خَيْرِ مُسْتَلَمِ
Aku tidak akan meminta harta kekayaan dunia dan akhirat dari tangan Beliau melainkan aku kan mengambil pemberian dari sebaik-baik orang dalam memenuhi permintaan umatnya
لَا تُنْكِرِ الْوَحْيَ مِنْ رُؤْيَاهُ إنَّ لَهُ ۞ قَلْبًا إِذَا نَامَتِ الْعَيْنَانِ لَمْ يَنَمِ
Janganlah kaupungkiri wahyu yang diraihnya lewat mimpi. Karena hatinya tetap terjaga meski dua matanya tidur terlena
وَذَاكَ حِـــيْنَ بُلُوغٍ مِن نُبُـوَّتِـــــهِ ۞ فَلَيْسَ يُنكَرُ فِيْـــهِ حَالُ مُحْتَلِمِ
Demikian itu terjadi tatkala beliau diangkat menjadi nabi. Maka tak perlu diingkari keadaan nabi yang bermimpi
تَبَــارَكَ اللهُ مَا وَحْيٌ بِمُكْتَسَبٍ ۞ وَلَا نَبِيٌّ عَلَى غَيْبٍ بِمُتَّهَمِ
Allah Mahasuci wahyu tiada dapat dicari. Tak ada seorang nabi dalam berita ghaibnya dicurigai
كَمْ أَبْرَأَتْ وَصِبًا بِاللَّمْسِ رَاحَتُهُ ۞ وَأَطْلَقَتْ أَرِبًا مِنْ رِبْقَةِ اللَّمَمِ
Betapa banyak orang sakit sembuh ketika telapak tangannya menyentuh. Dan menyelamatkan orang yang butuh dari sakit gila yang terus kambuh
وَأَحْيَتِ السَّنَةَ الشَّهْبَـــاءَ دَعْوَتُهُ ۞ حَتَّى حَكَتْ غُرَّةً فِيْ الْأَعْصُرِ الدُّهُمِ
Doa nabi dapat hidupkan tahun kering nan tiada hujan. Hingga bak titik putih di muka dalam lipatan hitamnya masa
بِعَارِضٍ جَادَ أَوْ خِلْتُ الْبِطَاحَ بِهَا ۞ سَيْبًا مِّنَ الْيَمِّ أَوْ سَيْلاً مِنَ العَرِمِ
Dengan awan yang hujannya deras hingga aku duga jurang nan luas. Air mengalir dari samudera atau mengalir dari lembah yang menganga
الفصل السادس: في شـرف الــقرآن ومدحـه
-
دَعْنِيْ وَوَصْفِيْ اٰيَــــاتٍ لَهُ ظَهَـــرَتْ ۞ ظُهُوْرَ نَارِ الْقِرَى لَيْلًا عَلَى عَلَمِ
Biarkan aku mengurai mukjizat yang tampak pada nabi. Tampak bagai api jamuan malam hari di atas gunung menjulang tinggi
فَالدُّرُّ يَزْدَادُ حُسْنًا وَّهُوَ مُنْتَظِمٌ ۞ وَلَيْسَ يَنْقُصُ قَدْرًا غَيْرَ مُنْتَظِمِ
Mutiara akan bertambah indah ketika dalam kondisi tersusun rapi walaupun (sebenarnya) kadar nilainya sama sekali tidak berkurang saat dalam keadaan terurai/tak rapi
فَمَا تَطَاوُلُ اٰمَــالِ الْمَديْـحِ إِلَى ۞ مَا فِيْهِ مِنْ كَرَمِ الْأَخْلَاقِ وَالشِّيَمِ
Maka sejauh apa pun angan pujian dibentangkan, ia takkan sanggup mencapai kemuliaan akhlak dan luhur budi yang melekat pada diri beliau.
اٰيَـاتُ حَقٍّ مِنَ الرَّحْمٰنُ مُحْدَثَةٌ ۞ قَدِيْمَةٌ صِفَةُ الْمَوْصُوْفِ بِالْقِدَمِ
Ayat-ayat Al-Qur’an adalah dari tuhan nan rahman. Baru turunnya, terdahulu maknanya dan sifat Dzat yang bersifat Mahadahulu
لَمْ تَقْتَـــرِنْ بِزَمَانٍ وَهِيَ تُخْبِرُنَــا ۞ عَنِ الْمَعَادِ وَعَنْ عَادٍ وَعَنْ إِرَمِ
Ayat-ayat Al-Qur’an tak bersamaan dengan zaman. Dan ayat-ayat Al-Qur’an telah kabarkan pada kita tentang akhirat, kaum ‘Ãd dan kota Iram
دَامَتْ لَدَيْنَا فَفَاقَتْ كُلَّ مُعْجِزَةٍ ۞ مِنَ النَّبِيِّيْنَ إِذْ جَآءَتْ وَلَمْ تَدُمِ
Ayat-ayat ilahi di sisi kita kekal abadi. Mengungguli mukjizat para nabi mukjizat yang datang tiada lestari
مُحْكَمـَــاتٌ فَمَا تُبْقِيْنَ مِنْ شُبَــــهٍ ۞ لِذِيْ شِقَاقٍ وَلَا تَبْغِيْنَ مِنْ حَكَمِ
Sungguh kokoh itu Al-Qur’an tak tinggalkan keserupaan. Bagi yang punya perselisihan dan tak usah cari hakim kebenaran
مَا حُوْرِبَتْ قَطُّ إِلَّا عَادَ مِنْ حَرَبٍ ۞ أَعْدَى الْأَعَادِيْ إِلَيْهَا مُلْقِيَ السَّلَمِ
Sama sekali Al-Qur’an tak akan ditentang kecuali akan kembali dari medan perang. Musuh yang sangat hebat dan pasrah dalam keadaan tunduk dan pasrah
رَدَّتْ بَلَاغَتُهَــــا دَعْوَى مُعَارِضِهَــــا ۞ رَدَّ الْغَيُورِ يَدَ الْجَانِ عَنِ الْحُرَمِ
Keindahan sastranya menaklukkan penentangnya. Bagai pencemburu membela keluarganya dari tangan jahil yang menjamahnya
لَهَا مَعَانٍ كَمَوْجِ الْبَحْرِ فِيْ مَدَدٍ ۞ وَفَوْقَ جَوْهَرِهِ فِيْ الْحُسْنِ وَالْقِيَمِ
Bagi Al-Qur’an berlimpah banyak makna bertambah-tambah bak ombak samudera. Keindahan dan nilainya melebihi mutiara samudera
فَـــلَا تُعَدُّ وَلَا تُحْصٰى عَجَـــائِبُهَــــا ۞ وَلَا تُسَامُ عَلَى الْإِكْثَارِ بِالسَّـــأَمِ
Keajaiban ayat-ayat Al-Qur’an tak bisa dibatasi hitungan. Maknanya nan banyak bertebaran sama sekali tak membosankan
قَرَّتْ بِهَـــا عَيْنُ قَارِيْهَا فَقُلْتُ لَهُ ۞ لَقَدْ ظَفَرْتَ بِحَبْلِ اللّٰهِ فَاعْتَصِمِ
Sejuklah mata pembacanya lalu kakatakan padanya. Sungguh anda telah beroleh bahagia berpeganglah selalu pada tali Allah ta`ala
إِنْ تَتْلُهَا خِيْفَةً مِنْ حَرِّ نَارِ لَظَى ۞ أَطْفَأْتَ نَارَ لَظىٰ مِنْ وِّرْدِهَا الشَّبِمِ
Jika karena takut engkau membacanya dari panas neraka ladha. Maka engkau padamkan panasnya karena kesejukan airnya
كَأَنَّهَا الْحَوْضُ تَبْيَضُّ الْوُجُوْهُ بِهِ ۞ مِنَ العُصَاةِ وَقَدْ جَآءُوْهُ كَالْحُمَمِ
Al-Qur’an laksana telaga dapat putihkan wajah. Wajah para pendosa wajah nan hitam arang tak cerah
وَكَالصِّـــرَاطِ وَكَالْمِـــــيْزَانِ مَعْــدِلَةً ۞ فَالْقِسْطُ مِنْ غَيْرِهَا فِيْ النَّـــاسِ لَمْ يَقُمِ
Al-Qur’an tegak bak lurusnya jalan laksana keadilan timbangan. Keadilan selain Al-Qur’an di kalangan manusia tiada yang langgeng bertahan lama
لَا تَعْجَبَنْ لِحَسُوْدٍ رَّاحَ يُنْكِرُهَــا ۞ تَجَاهُلًا وَّهُوَ عَيْنُ الْحَاذِقِ الْفَهِمِ
Jangan heran pada pendengki yang berusaha mengingkari. Pura pura bodoh diri padahal ia cerdas dan memahami
قَدْ تُنْكِرُ الْعَيْنُ ضَوْءَ الشَّمْسِ مِنْ رَّمَدٍ ۞ وَيُنْكِرُ الْفَمُ طَعْمَ الْمَآءِ مِنْ سَقَمِ
Terkadang mata sakit mengingkari pada sinar matahari. Segar air tekadang mulut pungkiri karena sakit yang menyilimuti
الفصل السابع: في إسرائه ومعراجه ﷺ
-
يَا خَيْرَ مَنْ يَّـمَّمَ الْعَافُوْنَ سَاحَتَهُ ۞ سَعْيًا وَّفَوْقَ مُتُوْنِ الْأَيْنُقِ الرُّسُمِ
Wahai sebaik-baiknya manusia, para pencari kebaikan menuju kediamannya. Dengan berjalan kaki atau unta yang cepat berlari
وَمَنْ هُوَ الْاٰيَةُ الكُبْرَى لِمُعْتَبِرٍ ۞ وَمَنْ هُوَ النِّعْمَةُ الْعُظْمَى لِمُغْتَنِمِ
Wahai nabi nan jadi pertanda besar bagi pencari i`tibar. Duhai nabi nan sebagai nikmat agung bagi orang yang ingin beruntung
سَرَيْتَ مِنْ حَرَمٍ لَيْلًا إِلَى حَرَمٍ ۞ كَمَا سَرَى الْبَدْرُ فِيْ دَاجٍ مِّنَ الظُّلَمِ
Dikala malam engkau berjalan dari masjidil haram ke masjidil aqsha. Bagai purnama yang berjalan menembus malam gulita
وَبِتَّ تَرْقَى إِلَى أَنْ نِلْتَ مَــــنْزِلَةً ۞ مِنْ قَابِ قَوْسَيْنِ لَمْ تُدْرَكْ وَلَمْ تُرَمِ
Dan engkau terus meninggi hingga suatu tempat engkau gapai. Yaitu tempat sekira-kira busur dua tak bisa dicapai dan diasa
وَقَدَّمَتْكَ جَمِيْعُ الْأنْبِيَـــآءِ بِهَـــا ۞ وَالرُّسْلُ تَقْدِيْمَ مَخْدُوْمٍ عَلَى خَدَمِ
Para nabi dan utusan mempersilahkan anda di depan. Laksana penghormatan pelayan kepada sang majikan
وَأَنْتَ تَخْتَرِقُ السَّبْعَ الطِّبَاقَ بِهِمْ ۞ فِيْ مَوْكِبٍ كُنْتَ فِيْهِ صَاحِبَ الْعَلَمِ
Engkau tembus langit tujuh petala bersama para rasul dan anbiya’. Dalam kumpulan malaikat Allah ta`ala engkaulah menjadi pemimpinnya
حَتَّى إِذَا لَمْ تَدَعْ شَأْوًا لِمُسْتَبِقٍ ۞ مِنَ الدُّنُوِّ وَلَا مَرْقًى لِمُسْتَنِمِ
Hingga tak satu puncak engkau sisai bagi orang yang ingin mendahului. Tempat dekat dan tempat tinggi bagi pencari derajat tinggi
خَفَضْتَ كُلَّ مَقَامٍ بِالْإِضَافَةِ إِذْ ۞ نُوْدِيْتَ بِالرَّفْعِ مِثْلَ الْمُفْرَدِ الْعَلَمِ
Dibandingkan dengan derajatmu derajat jadi rendah semua. Karena dengan khusus dipanggil namamu bak mufrad `alam dalam kekhususannya
كَيْمَا تَفُوْزَ بِوَصْــلٍ أَيِّ مُسْتَــتِرٍ ۞ عَنِ الْعُيُوْنِ وَسِرٍّ أَيِّ مُكْتَتَمِ
Agar engkau peroleh hubungan sempurna tertutup dari pandangan mata. Dan rahasia nan tiada terbuka tersimpan dari makhluk tercipta
فَحُـــــزْتَ كُلَّ فَخَــــارٍ غَيْرَ مُشْتَرَكٍ ۞ وَجُزْتَ كُلَّ مَقَامٍ غَيْرَ مُزْدَحَمِ
Kau kumpulkan semua kebanggaan keutamaan nan tak terbagi. Engkau lewati setiap derajat ketinggian derajat nan tak terdesaki
وَجَلَّ مِقْدَارُ مَا وُلِّيْتَ مِنْ رُتَبٍ ۞ وَعَزَّ إِدْرَاكُ مَا أُوْلِيْتَ مِنْ نِّعَمِ
Sungguh agung nilainya derajat yang kaudapati. Sungguh jarang lagi langka dapatkan nikmat yang engkau diberi
بُشْرَى لَنَا مَعْشَرَ الْإِسْلَامِ إِنَّ لَنَا ۞ مِنَ الْعِنَايَةِ رُكْنًا غَيْرَ مُنْهَدِمِ
Kabar gembira wahai golongan umat Islam. Bagi kita tiang kokoh jaya takkan roboh padam
لَمَّـــــا دَعَا اللهُ دَاعِيْنَا لِطَاعَتِـــــهِ ۞ بِأَكْرَمِ الرُّسْلِ كُنَّا أَكْرَمَ الُأُمَمِ
Tatkala Allah panggil nabi pengajak kita karena ketaatannya kepada Allah. Dengan panggilan rasul termulia maka jadilah kita umat yang paling mulia
الفصل الثامن: في جهاد النبي ﷺ
-
رَاعَتْ قُلُوْبَ الْعِدَا أَنْبَاءُ بَعْثَتِهِ ۞ كَنَبْأَةٍ أَجْفَلَتْ غُفْلًا مِّنَ الْغَنَمِ
Berita kenabian jadiakan hati musuh gentar ketakutan. Bak lolongan srigala takutkan kambing nan lupa
مَا زَالَ يَلْقَـــاهُمُ فِيْ كُلِّ مُعْـــــتَرَكٍ ۞ حَتّٰى حَكَوْا بِالْقَنَا لَحْمًا عَلَى وَضَمِ
Nabi tiada henti musuh dilawan dalam setiap medan pertempuran. Hingga daging mereka bertumpukan laksana daging di tempat pemotongan
وَدُّوا الْفَرَارَ فَكَادُوْا يَغْبِطُوْنَ بِــهِ ۞ أَشْلَآءَ شَالَتْ مَعَ الْعِقْبَانِ وَالرَّخَمِ
Mereka ingin lari hampir saja mereka berharap diri. Anggota badan nan hancur menjauhi, terbang bersama burung rakhmah dan rajawali
تَمْضِيْ اللَّيَالِيْ وَلَا يَدْرُوْنَ عِدَّتَهَا ۞ مَا لَمْ تَكُنْ مِّنْ لَيَالِي الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ
Siang malam berlalu hitungannya mereka tak tahu. Selagi siang malam tak berada dalam bulan-bulan nan mulia
كَأَنَّمَا الدِّيْنُ ضَيْفٌ حَلَّ سَاحَتَهُمْ ۞ بِكُلِّ قَرْمٍ إِلَى لَحْمِ الْعِدَا قَرِمِ
Islam datang bagai tamu undangan, singgah di halaman sahabat Nabi. Bersama orang-orang jantan yang sangat ingin membunuh musuh Islami
يَجُرُّ بَحْـــــرَ خَمِيْسٍ فَوْقَ سَـــــابِحَةٍ ۞ يَرْمِيْ بِمَوْجٍ مِنَ الْأَبْطَالِ مُلْتَطِمِ
Ia membawa lautan pasukan diatas kuda yang berenang jaya. Membawa para pemberani lagi jantan bagai debur ombak samudera
مِنْ كُلِّ مُنْتَدِبٍ لِلّٰهِ مُحْتَسِبٍ ۞ يَسْطُوْا بِمُسْتَأْصِلٍ لِلكُفْرِ مُصْطَلِمِ
Setiap orang yang penuhi panggilan Allah dan mengharap pahala di sisi allah. Menyerang akar kekufuran dengan pedang pembasmi memusnahkan
حَتّٰى غَدَتْ مِلَّةُ الْإِسْلَامِ وَهِيَ بِهِمْ ۞ مِنْ بَعْدِ غُرْبَتِهَا مَوْصُوْلَةَ الرَّحِمِ
Berkat kegigihan para ksatria hingga jadilah Islam agama. Setelah terasing jauh dari pemeluknya terjalin erat hubungan keluarga
مَكْفُوْلَـــةً أَبَدًا مِّنْهُـــــمْ بِخَـــــيْرِ أَبٍ ۞ وَخَيْرِ بَعْلٍ فَلَمْ تَيْتَمْ وَلَمْ تَئِمِ
Islam terjamin selamanya dari mereka dengan sebaik-baik aba. Dan sebaik-baik suami tercinta mereka takkan jadi yatim dan janda
هُمُ الْجِبَالُ فَسَلْ عَنْهُمْ مُّصَـــادِمَهُمْ ۞ مَاذَا رَأَى مِنْهُمْ فِيْ كُلِّ مُصْطَدَمِ
Mereka ksatria bak gunung nan kokoh kuat, maka tanyakan lawan tentang hebatnya gempuran. Apa yang mereka lihat dalam setiap medan peperangan?
وَسَلْ حُنَيْنًا وَسَلْ بَدْرًا وَسَلْ أُحُدًا ۞ فُصُوْلُ حَتْفٍ لَّهُمْ أَدْهٰى مِنَ الوَخَمِ
Coba kautanyakan pada Hunain, Badar dan Uhud sebagai ajang peristiwa. Semuanya tempat macam kematian terasa lebih ganas dari wabah kolera
اَلْمُصْدِرِى الْبِيْضَ حُمْرًا بَعْدَ مَا وَرَدَتْ ۞ مِنَ الْعِدَا كُلَّ مُسْوَدٍّ مِّنَ اللِّمَمِ
Pedang mereka nan putih berkilauan kembali menjadi merah padam. Setelah banyak memenggal leher lawan hitam sehitam rambut nan kelam
وَالكَاتِبِــــيْنَ بِسُمْرِ الْخَـــــطِّ مَا تَرَكَتْ ۞ أَقْلَامُهُمْ حَرْفَ جِسْمٍ غَيْرَ مُنَعَجِمِ
Dengan kayu khat sebagai tombak senjata mereka tusukkan pada para musuh. Tombak pena takkan tinggalkan sisa daging terkoyak dari tubuh
شَاكِّي السِّلَاحِ لَهُمْ سِيْـمَا تُمَيِّزُهُمْ ۞ وَالْوَرْدُ يَمْتَازُ بِالسِّيْمَا عَنِ السَّلَمِ
Para tentara nan tajam senjatanya miliki tanda pembeda. Bak mawar nan mempesona dengan pohon salam ada tanda pembeda
تُهْدِيْ إِلَيْكَ رِيَاحُ النَّصْرِ نَشْرَهُمُ ۞ فَتَحْسَبُ الزَّهْرَ فِيْ الْأَكْمَامِ كُلَّ كَمِيْ
Angin kemenangan kirimkan padamu semerbak keharuman tentara. Hingga bunga di kelopak tersangka olehmu tentara nan gagah perkasa
كَأَنّهُمْ فِيْ ظُهُورِ الْخَيْلِ نَبْتُ رُبًــــا ۞ مِنْ شِدَّةِ الْحَزْمِ لَا مِنْ شِدَّةِ الْحُزُمِ
Seakan-akan mereka dipunggung kuda laksana pepohonan di bukit tinggi. Karena kuatnya kemantapan belaka bukan karena kuatnya tali
طَارَتْ قُلُوبُ الْعِدَى مِنْ بَأْسِهِمْ فَـرَقًا ۞ فَمَــا تُفَــــرِّقُ بَيْنَ الْبَهْمِ وَالْبُــهَمِ
Hati para musuh goncang duka karena takut serangan dahsyat para ksatria. Maka tak dapat bedakan antara kumpulan anak domba dan sekelompok pemberani perkasa
وَمَنْ تَكُنْ بِرَسُولِ اللهِ نُصْرَتُهُ ۞ إِنْ تَلْقَهُ الْأُسْدُ فِيْ اٰجَامِهَا تَجِمِ
Barangsiapa meraih kemenangan sebab rasulullah nabi pilihan. Bila singa di rimba menjumpainya, maka akan diam tunduk padanya
وَلَنْ تَرَى مِنْ وَّلِيٍّ غَيْرِ مُنْتَصِرٍ ۞ بِهِ وَلَا مِنْ عَدُوٍّ غَيْرِ مُنْقَصِمِ
Tak kaulihat kekasih beriman kecuali beroleh kemenangan. Dan tak kaulihat musuh nabi utusan kecuali mendapat kekalahan
أَحَــــلَّ أُمّتَهُ فِيْ حِــــرْزِ مِلَّتِـــهِ ۞ كَاللَّيْثِ حَلَّ مَعَ الْأَشْبَالِ فِيْ أَجَمِ
Nabi tempatkan umatnya dalam benteng agamanya. Bagai singa tempatkan anak-anaknya dalam hutan belantara
كَمْ جَدَّلَتْ كَلِمَاتُ اللهِ مِنْ جَدَلٍ ۞ فِيْهِ وَكَمْ خَصَمَ الْبُرْهَانُ مِنْ خَصِمِ
Seringkali kitab suci Al-Qur’an jatuhkan musuh dalam perdebatan. Dan telah banyak dalil-dalil pasti kalahkan musuh-musuh sejati
كَفَاكَ بِالْعِلْمِ فِي الْأُمِّيِّ مُعْجِزَةً ۞ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَالتَأْدِيْبِ فِي الْيُتُمِ
Cukuplah bagimu sebagai mukjizat: keluasan ilmu yang dipunyai oleh Nabi ﷺ, padahal beliau seorang ummi (tak bisa baca tulis) yang hidup di era kebodohan (jahiliyah). Selain itu, beliau juga seorang yang beradab dan berakhla mulia padahal beliau seorang yatim (piatu)
الفصل التاسع: في التوسل بالنّبي ﷺ
-
خَدَمْتُــــهُ بِمَدِيْحٍ أَسْتَقِيْـــلُ بِهِ ۞ ذُنُوْبَ عُمْرٍ مَّضَى فِي الشِّعْرِ وَالْخِدَمِ
Kupuja nabi dengan pujian kumohon adanya pengampunan. Dosa –dosa hidup yang terlewatkan dalam bersyair dan pujian
إِذْ قَلَّدَانِيَ مَـــا تُخْشَى عَوَاقِبُـــهُ ۞ كَأَنَّنِيْ بِهِمَا هَدْيٌ مِنَ النَّعَمِ
Keduanya mengalungi diriku sesuatu yang menakutkan akibatnya dengan dua perkara itu. Seakan akan diriku hewan sembelihan berupa unta
أَطَعْتُ غَيَّ الصِّبَا فِيْ الحَالَتَيْنِ وَمَا ۞ حَصَلْتُ إِلَّا عَلَى الْاٰثَامِ وَالنَّدَمِ
Kuturuti bujuk rayu masa muda dalam bersyair dan memuja. Tak ada yang kudapatkan kecuali dosa dan penyesalan
فَيَا خَسَارَةَ نَفْسٍ فِيْ تِجَـــارَتِهَا ۞ لَمْ تَشْتَرِ الدِّيْنَ بِالدُّنْيَــا وَلَمْ تَسُمِ
Alangkah ruginya jiwa dalam perdagangannya. Tak pernah beli agama dengan dunia dan pernah menawarnya
وَمَنْ يَبِعْ اٰجِـلًا مِنْهُ بِعَـــــاجِلِهِ ۞ يَبِنْ لَهُ الْغَبْنُ فِيْ بَيْعٍ وَفِيْ سَلَمِ
Barangsiapa menjual akhirat dengan dunia kebahagian sesaat. Maka nyata baginya kerugian dalam jual beli dan akad salam
إِنْ اٰتِ ذَنْبًا فَمَا عَهْدِيْ بِمُنْتَقِضٍ ۞ مِنَ النَّبِيِّ وَلَا حَبْلِيْ بِمُنْصَرِمِ
Jika dosa kulakukan janjiku pada nabi tidaklah terputuskan. Dan juga tali hubungan takkan terputuskan
فَــــإِنَّ لِيْ ذِمَّــــةً مِنْـــــهُ بِتَسْمِيَتِيْ ۞ مُحَمَّدًا وَهْوَ أَوْفَى الْخَلْقِ بِالذِّمَمِ
Sesungguhnya aku punya jaminan namaku Muhammad sesuai dengan nabi. Nabi lebih sempurnanya makhluk ciptaan dalam menepati janji
إِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْ مَعَادِيْ اٰخِذًا بِيَدِيْ ۞ فَضْلًا وَإِلَّا فَقُلْ يَا زَلَّةَ الْقَدَمِ
Jika di akhirat nabi tak ulurkan tangan menolongku sebagai fadhal keutamaan. Maka sampaikanlah kata “wahai orang yang tergelincir kakinya”
حَاشَاهُ أَنْ يُّحْرِمَ الرَّاجِيْ مَكَارِمَهُ ۞ أَوْ يُرْجِعَ الْجَارَ مِنْهُ غَيْرَ مُحْتَرَمِ
Mahasuci Allah ta`ala nabi tak tolak pengharap syafaatnya. Atau tetangga kembali darinya tanpa dihormati dan dimuliakan
وَمُنْذُ أَلْزَمْتُ أَفْكَارِيْ مَدَائِحَـــــهُ ۞ وَجَدْتُهُ لِخَلَاصِيْ خَيْرَ مُلْتَزِمِ
Sejak kucurahkan segala pikiran untuk memberikan aneka pujian. Maka untuk keselamatanku nabi kudapatkan sebaik baik pemberi jaminan
وَلَنْ يَفُوتَ الْغِنَى مِنْهُ يَدًا تَرِبَتْ ۞ إِنَّ الْحَيَا يُنْبِتُ الْأَزْهَارَ فِيْ الْأُكُمِ
Pemberian nabi takkan luputkan setiap tangan yang membutuhkan. Susengguhnya hujan akan menghidupi bunga-bunga di bukit tinggi
وَلَمْ أُرِدْ زَهْرَةَ الدُّنْيَا الَّتِي اقْتَطَفَتْ ۞ يَدَا زُهَيْرٍ بِمَا أَثْنَى عَلَى هَرِمِ
Aku tidaklah mengharapkan dunia yang penuh kenikmatan. Seperti yang Zuhair petik dengan tangannya atas raja Harim yang ia puja
الفَصْلُ العَـــاشِرُ: فِي المُنَاجَاةِ وَعَرَضُ الحَاجَاتِ
-
يَا أَكْرَمَ الرُّسْلِ مَالِيْ مَنْ أَلُوْذُ بِهِ ۞ سِوَاكَ عِنْدَ حُلُوْلِ الْحَادِثِ العَمِمِ
Wahai makhluk paling mulia, tiada orang tempat perlindungan hamba. Selain engkau baginda kala huru hara kiamat melanda semua manusia
وَلَنْ يَضِيْقَ رَسُولَ اللهِ جَاهُكَ بِيْ ۞ إِذَا الْكَرِيْمُ تَحَلَّى بِاسْمِ مُنْتَقِمِ
Wahai Rasululloh, keagunganmu tiada sempit karena hamba. Tatkala Dzat yang Mahamulia bersifat dengan nama Dzat Penyiksa
فَإِنَّ مِنْ جُوْدِكَ الدُّنْيَا وَضُرَّتَهَا ۞ وَمِنْ عُلُوْمِكَ عِلْمَ اللَّوْحِ وَالْقَلَمِ
Di antara kemurahanmu adalah dunia dan akhirat baqa. Dan diantara ilmumu adalah ilmu lauh mahfudh dan qalam pena
يَا نَفْسُ لَا تَقْنَطِيْ مِنْ زَلَّةٍ عَظُمَتْ ۞ إِنَّ الْكَبَآئِرَ فِيْ الغُفْرَانِ كَاللَّمَمِ
Wahai jiwa janganlah putus asa karena dosa besar yang telah dilakukan. Sesungguhnya dosa-dosa besar dalam luasnya ampunan Allah seperti kecil dan ringan
لَعَــلَّ رَحْمَةَ رَبِّي حِيْنَ يَقْسِمُهَا ۞ تَأْتِيْ عَلَى حَسَبِ الْعِصْيَانِ فِي الْقِسَمِ
Semoga rahmat Allah, ketika dibagi-bagikan. Datang, sampai kepadaku dalam pembagian Sesuai dengan nilai kedurhakaanku
يَا رَبِّ وَاجْعَلْ رَجَآئِيْ غَيْـرَ مُنْعَكِسٍ ۞ لَدَيْكَ وَاجْعَلْ حِسَابِيْ غَيْرَ مُنْخَرِمِ
Ya allah jadikanlah harapanku tak berbeda dengan apa yang ada disisi-mu. Dan jadikanlah keyakinanku tiada putus-putus kepada-mu
وَالْطُفْ بِعَبْدِكَ فِي الدَّارَيْنِ إِنَّ لَهُ ۞ صَبْرًا مَتَى تَدْعُهُ الْأَهْوَالُ يَنْهَزِمِ
Ya Allah, kasihanilah hamba-mu ini dalam dunia dan akhirat nanti. Sesungguhnya ia punya kesabaran jika bencana menimpa lari tak tahan
وَأْذِنْ لِسُحْبِ صَلَاةٍ مِنْكَ دَائِمَةٍ ۞ عَلَى النَّبِيِّ بِمُنْهَلٍّ وَمُنْسَجِمِ
Ya Allah, semoga Engkau curahkan awan shalawat-mu abadi tak terbatas. Kepada junjungan nabi Agung Muhammad ﷺ, layaknya hujan mengalir deras
مَا رَنَّحَتْ عَذَبَاتُ الْبَانِ رِيْحُ صَبًا ۞ وَأَطْرَبَ الْعِيْسَ حَادِي الْعِيْسِ بِالنَّغَمِ
Selagi angin timur masih mendoyongkan dahan-dahan pohon ban. Dan selagi pengembala unta senangkan unta dengan merdu suara
ثُمَّ الرِّضَا عَنْ أَبِيْ بَكْرٍ وَعَنْ عُمَرَ ۞ وَعَنْ عَلِيٍّ وَعَنْ عُثْمَانَ ذِي الْكَرَمِ
Kemudian ridha Allah semoga tetap tercurah ruah untuk Abu Bakar, Umar. Ali dan Utsman, mereka shahabat –shahabat yang memiliki kemuliaan yang tinggi
وَالْاٰلِ وَالصَّحْبِ ثُمَّ التَابِعِيْنَ فَهُمْ ۞ أَهْلُ التُّقَى وَالنَّقَا وَالْحِلْمِ وَالْكَرَمِ
Juga keluarga dan shahabatnya kemudian para tabi`in. Dan pengikutnya mereka ahli taqwa dan kesucian bersifat penyantun dan dermawan
يَا رَبِّ بِالْمُصْطَفَى بَلِّغْ مَقَاصِدَنَا ۞ وَاغْفِرْ لَنَا مَا مَضَى يَا وَاسِعَ الكَرَمِ
Ya Allah, semoga dengan berkah nabi yang pinilih, gandakanlah segala cita-cita kami. Dan ampunlah segala dosa kami yang terlewat masa wahai dzat yang luas kemurahan-nya
وَاغْفِرْ إِلٰهِيْ لِكُلِّ الْمُسْلِمِيْنَ بِمَا ۞ يَتْلُوْنَ فِي المَسْجِدِ الْأَقْصٰى وَفِي الْحَرَمِ
Ampunilah wahai tuhan beta dosa-dosa muslim semua. Berkat Al-Qur’an yang mereka baca di masjidil haram dan aqsha
بِجَاهِ مَنْ بَيْتُهُ فِي طِيْبَةٍ حَرَمٌ ۞ وَاسْمُهُ قَسَمٌ مِنْ أَعْظَمِ الْقَسَمِ
Dengan keagungan Nabi yang tinggal di tanah suci. Namanya menjadi sumpah paling agungnya sumpah
وَهٰذِهِ بُرْدَةُ الْمُخْتَارِ قَدْ خُتِمَتْ ۞ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ فِيْ بَدْءٍ وَفِيْ خَتَمِ
Inilah sair-sair burdah yang telah sampai pada penghabisan. Segala puji bagi Allah, dari permulaan sampai penghabisan
أَبْيَاتُهَا قَدْ أَتَتْ سِتِّينَ مَعْ مِائَةٍ ۞ فَرِّجْ بِهَا كَرْبَنَا يَا وَاسِعَ الْكَرَمِ
Bait-bait Qashidah Burdah sebanyak seratus enam puluh buah. Berkat burdah lapangkan segala duka cita wahai dzat yang Mahaluas kemurahan-Nya